(Puspen TNI.
Rabu, 20 Juli 2016). Saat ini terorisme menurun jumlahnya tapi meningkat
berkali-kali lipat dampak potensi membunuhnya lebih kejam daripada pelanggaran
kriminal, memiliki tujuan politik dengan metode militer dan merupakan
kejahatan negara. Demikian kata Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat
memberikan ceramah dihadapan 965 Siswa Sesko TNI, Sespimti Polri, Sesko
Angkatan dan Sespimmen Polri di Gedung Jenderal Soedirman Sekolah Calon Perwira
Angkatan Darat (Secapa AD) Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.
“Skema dan
pola ancaman terorisme semakin dinamis dan meluas secara asimetris, sehingga
secara nyata mengancam Kedaulatan dan Pertahanan Negara. Masa lalu definisi
terorisme adalah kejahatan kriminal, sedangkan masa kini terorisme adalah
kejahatan terhadap negara,” tutur Panglima TNI.
Karena skema
dan pola yang masif dan asimetris maka setiap kejadian teror diberbagai negara
selalu membawa dampak yang sangat serius. Dampak dari akibat serangan teroris
bisa dilihat dalam beberapa fakta sebagai berikut : tanggal 11 September 2001
WTC New York, Amerika Serikat sebanyak 2.977 orang tewas, tanggal 26 November 2008 Mumbai India sebanyak 170 orang tewas, tanggal 13 November 2015 Paris, Perancis sebanyak 129 orang tewas dan tanggal 15 Juli 2016 Nice, Perancis sebanyak 80 orang tewas.
Lebih jauh
Panglima TNI menyampaikan pandangannya bahwa terorisme merupakan kejahatan
terhadap negara seperti yang termuat dalam Resolusi 1566 Dewan Keamanan
PBB bahwa terorisme tidak sama dengan aksi kriminal karena mengancam
aturan sosial, kemananan individu, keamanan nasioanal, perdamaian dunia dan
ekonomi. “Jadi terorisme adalah kejahatan terhadap negara karena terorisme
merusak negara dan sudah terbukti,” kata Panglima TNI.
Hal tersebut
sesuai dengan teori Boaz Ganor dari International
Institute For Counter Terrorism, Interdiscplinary Center tentang terorisme, dimana hukum kriminal tidak akan mampu menjerat terorisme,
karena dibuat untuk mengatur kehidupan sehari-hari, hukum perang lebih cocok
didefinisikan menjerat aksi terorisme yang bertujuan politik dan sering
menggunakan metode operasi layaknya militer.
Panglima TNI
memberikan contoh penanganan teroris di Amerika Serikat, karena seriusnya
ancaman terorisme terhadap negara maka dalam menangani aksi terorisme
melibatkan CIA dan militer serta menjadi agenda prioritas
pemerintah Amerika Serikat.
Sementara di
Indonesia terorisme masih didefenisikan sebagai kriminal biasa, sehingga fokus
penindakkannya dimulai setelah ada bukti baru kemudian dilakukan penindakan
(proyustisia). Inilah yang membuat pelaku teror nyaman berada di Indonesia
karena hukum di Indonesia masih lemah. “Perlu adanya perubahan pendekatan dalam
menghadapi tindakkan terorisme yang sudah masif dengan lebih mengutamakan
tindakan deteksi dan cegah dini,” ucap Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.
Indonesia
memiliki peluang dalam meningkatkan tindakan deteksi dan cegah dini terhadap
ancaman terorisme melalui sinergitas TNI-Polri dan aparatur Pemerintah Daerah
yang memegang peranan penting dalam upaya tersebut. Bahwa upaya pencegahan
tidak dapat dilakukan satu lembaga pemerintahan saja tetapi harus ada kerja
sama dan sinergi antar lembaga pemerintah serta melibatkan masyarakat.
“Kita punya
badan pengumpulan keterangan diseluruh pelosok Indonesia, Babinsa ada 53.000
personel lebih, Babinkamtibmas dari Kepolisian 62.000 personel,
Lurah/Kepala Desa 81.000 personel, total ada 271.000 orang apabila dimanfaatkan
sangatlah efektif sekali,” ungkap Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.
Menurut
Jenderal TNI Gatot Nurmantyo ada solusi lain untuk menghadapi semuanya itu,
para elit harus bersatu bersama pemerintah, jangan hanya berwacana, apalagi
saling menyerang bahkan menjelek-jelekan pemerintah, jangan ada lagi egosentris
dan seharusnya kita mengutamakan berkarya hanya untuk NKRI.
Pembekalan
Panglima TNI kepada Pasis Sesko TNI mengusung tema “Melalui PKB Kejuangan tahun
2016, Kita Mantapkan Loyalitas, Moralitas dan Integritas serta Sinergitas
TNI-Polri Guna Menjaga Stabilitas Nasional” tersebut bertujuan untuk memberikan
pembekalan awal Pekan Kegiatan Bersama (PKB) Kejuangan Sesko TNI, Sespimti
Polri, Sesko Angkatan dan Sespimmen Polri TA. 2016 sebagai bekal calon pemimpin
TNI dan Polri dimasa yang akan datang.
0 komentar: